Rabu, 27 Oktober 2021

ORIENTASI NILAI BUDAYA DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

 

Orientasi Nilai Budaya dalam Kehidupan Bermasyarakat

Disusun oleh:

Erlyna Rahma Sari (19310410084)

Artikel ini dibuat untuk memenuhi Tugas Ilmu Budaya Dasar,

Prodi Psikologi, Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Dosen Pengampu Dr. Arundati Shinta/Amin Nurohmah, S.Pd., M.Sc

Orientasi nilai budaya atau  sistem nilai budaya berhubungan dengan apa yang diinginkan, pantas dan berharga sebagai pedoman terbaik bagi perilaku manusia. Menurut Koenjaraningrat (1986:90-94) nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap amat mulia. Sedangkan definisi nilai budaya menurut Kluckhohn   dalam   Pelly   (1994)   adalah bahwa   nilai   budaya merupakan  sebuah  konsep  beruanglingkup  luas  yang  hidup  dalam alam  fikiran sebahagian besar warga suatu masyarakat, mengenai apa yang paling berharga dalam hidup. Rangkaian konsep itu satu sama lain saling berkaitan dan merupakan sebuah sistem nilai – nilai budaya.

Secara fungsional sistem nilai ini mendorong individu untuk berperilaku seperti apa yang ditentukan. Mereka percaya, bahwa hanya dengan berperilaku seperti itu mereka akan berhasil (Kahl, dalam pelly, 1994). Sistem nilai itu menjadi pedoman yang melekat serta erat emosional pada diri seseorang atau sekumpulan orang, malah merupakan tujuan hidup yang diperjuangkan. Oleh karena itu, merubah sistem nilai manusia tidaklah mudah, dibutuhkan waktu. Sebab nilai-nilai tersebut merupakan wujud ideal dari lingkungan sosialnya.

Ada lima masalah pokok kehidupan manusia dalam setiap kebudayaan yang dapat ditemukan secara universal. Menurut Kluckhohn dalam Pelly (1994) kelima masalah pokok tersebut adalah: (1) masalah hakikat hidup (MH), (2) hakikat kerja atau karya manusia (MK), (3) hakikat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu (MW), (4) hakikat hubungan manusia dengan alam sekitar (MA), dan (5) hakikat dari hubungan manusia dengan manusia sesamanya (MM). Kelima masalah tersebut dijabarkan sebagi berikut:

Pertama, masalah hakikat hidup (MH). Hakikat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstrem; ada yang berusaha untuk memadamkan hidup (nirvana = meniup habis), ada pula yang dengan pola-pola kelakuan tertentu meuganggap hidup sebagai suatu hari yang baik, "mengisi hidup".

Kedua, hakikat kerja atau karya manusia (MK). Setiap kebudayaan hakikatnya berbeda-beda, di antaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi.

Ketiga, hakikat kedudukan manusia dengan ruang dan waktu (MW). Hakikat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda; ada yang berpandangan mementingkan orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan untuk masa kini atau yang akan datang.

Keempat, hakikat hubungan manusia dengan alam sekitar (MA). Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudayaan yang beranggapan bahwa: manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.

Kelima, hakikat dari huhungan manusia dengan manusia sesamanya (MM). Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal (sesamanya) maupun secara vertikal (orientasi kepada tokoh-tokoh). Ada pula yang berpandangan individualistis (menilai tinggi kekuatan sendiri)

 

Referensi:

Koentjaraningrat. (1986). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta, Jakarta

Pelly, Usman. (1994). Teori-Teori Ilmu Sosial Budaya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Penyusun, Tim. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa, Jakarta.

Sumber Gambar:

https://images.app.goo.gl/TARXHJztMXhWaxSD8 (diakses pada tanggal 27 oktokber 2021)

HUBUNGAN PRANATA SOSIAL DENGAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN INFORMASI

Hubungan Pranata Sosial dengan

Perkembangan Teknologi dan Informasi

Disusun oleh:

Nama: Erlyna Rahma Sari

NIM: 19310410084

Artikel ini dibuat untuk memenuhi Tugas Ilmu Budaya Dasar,

Prodi Psikologi, Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Dosen Pengampu Dr. Arundati Shinta/Amin Nurohmah, S.Pd., M.Sc

Manusia adalah makhluk sosial. Tujuan dari keberadaan sosial adalah bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Manusia hidup sebagai makhluk sosial dalam masyarakat yang diatur secara ketat.  Keberadaan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat erat kaitannya dengan persetujuan masyarakat terhadap penerapan sistem nilai dan norma.

Pranata sosial berasal dari bahasa Inggris yaitu institution. Beberapa sosiolog menerjemahkan institusi sosial dalam istilah lain, yaitu bangunan sosial, lembaga kemasyarakatan, atau lembaga sosial. Secara umum pranata sosial adalah suatu sistem tingkah laku dalam hubungan-hubungan kegiatan untuk memenuhi berbagai kebutuhan khusus dalam masyarakat.

Dikutip dari buku Pengantar Antropologi (2019) yang ditulis Gunsu Nurmansyah, Nunung Rodliyah, dan Recca Ayu Hapsari, secara defenisi pranata sosial adalah sistem norma atau aturan mengenai suatu aktivitas masyarakat secara khusus. Sedangkan menurut Koentjaraningrat (1979), sistem-sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat itu untuk berinteraksi menurut pola-pola resmi atau suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.

Macam-Macam Pranata Sosial

Pranata sosial dapat berubah menjadi dalam delapan macam pranata, sebagaimana dinyatakan Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (2000) sebagai berikut:

·         Pranata Domestik

Pranata domestik ini bertujuan untuk memenuhi keperluan keluarga, kekerabatan, dan hubungan antar-pasangan. Contohnya pranata perkawinan, tolong menolong antar-kerabat, pengasuhan anak, sopan santun dalam pergaulan antar-kerabat, dan lain sebagainya.

·         Pranata Ekonomi

Pranata ekonomi ini bertujuan untuk memenuhi keperluan manusia, baik itu kebutuhan sandang, pangan, dan papannya. Pranata ekonomi juga berfungsi sebagai mata pencaharian hidup, memproduksi, menimbun, menyimpan, serta mendistribusi hasil produksi, dan lain sebagainya. Contohnya pranata pertanian, perbankan, industri, dan lain sebagainya.

·         Pranata Pendidikan

Pranata pendidikan ini bertujuan memenuhi keperluan ilmu pengetahuan dan pendidikan manusia agar menjadi anggota masyarakat yang beradab dan berguna. Contohnya pranata pemberantasan huruf, sekolah, pers, perpustakaan umum, dan lain sebagainya.

·         Pranata Ilmiah

Pranata ilmiah ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah manusia, serta mengatur cara penelaahan yang valid, kredibel, dan reliabel. Contohnya pranata metodologi ilmiah, penelitian, pendidikan ilmiah, dan sebagainya

·         Rekreasi Pranata

Pranata rekreasi ini bertujuan memenuhi keperluan manusia dalam menghayati rasa keindahannya, hiburan, dan kesenangannya. Contohnya pranata seni rupa, seni gerak, seni suara, seni drama, kesusastraan, olahraga, sanggar hiburan, dan lain sebagainya.

·         Pranata Agama

Pranata agama ini bertujuan memenuhi keperluan spiritual manusia, baik itu dalam berhubungan dengan Tuhan atau dengan alam gaib. Contohnya pranata siaran agama, pantangan, ilmu gaib, metafisika, semadi dan lain sebagainya.

·         Pranata Politik

Pranata politik ini bertujuan memenuhi keperluan manusia dalam mengatur dan mengelola sistem kekuasaan dalam kehidupan bermasyarakat. Contohnya pranata pemerintahan, demokrasi, kehakiman, kepartaian, kepolisian, dan lain sebagainya.

·         Pranata Fisik atau Pranata Somatik

Pranata fisik atau somatik bertujuan untuk memenuhi keperluan fisik, kesehatan, dan kenyamanan hidup. Contohnya pemeliharaan kesehatan, pusat kebugaran, pusat kecantikan, rumah, dan lain sebagainya.

Keterkaitan Pranata Sosial dengan Perkembangan Informasi dan Teknologi

Kemajuan teknologi mengarah pada revolusi komunikasi dan mempengaruhi perkembangan masyarakat. Di bidang sosial, teknologi mengubah cara  masyarakat, organisasi atau bisnis dan keluarga berkomunikasi. Dulu, masyarakat selalu memanfaatkan pentingnya komunikasi langsung untuk menyampaikan informasi. Sekarang masyarakat dapat dimudahkan dengan adanya teknologi. Hal itu memungkinkan orang tua untuk bertukar kabar dengan anaknya yang berbeda kota melalui pesan atau video call. Dari sisi budaya, perkembangan teknologi saat ini memberikan dampak yang luar biasa, terutama bagi generasi muda tanah air. Teknologi membawa  pengetahuan baru bagi pembaca. Selain itu, teknologi informasi dan komunikasi saat ini sedang mengalami perubahan yang mempengaruhi perekonomian masyarakat. Orang-orang, terutama bisnis kecil dan bisnis besar, sekarang menggunakan teknologi untuk menjual produk mereka. Hal itu mereka lakukan dengan mengiklankan produk di sosial media misalnya instagram, facebook, tiktok, dan lain sebaginya.

Pranata Sosial yang Berkembang Paling Pesat

Sebagai salah satu tujuan dari pranata sosial untuk memenuhi kebutuhan  manusia, dengan itu pranata ekonomi sistem norma atau kaidah yang mengatur perilaku individu dalam masyarakat untuk memenuhi kebutuhan barang  dan jasa. Jadi pranata ekonomi ini lahir ketika orang-orang mulai mengadakan pertukaran barang atau perdagangan serta mengakui adanya kebutuhan atau tuntutan dari orang lain.

Di dalam masyarakat, beerapa termasuk dalam kelompok elit (atas), sementara yang lain hidup dalam kelompok bawah. Namun, dua kelompok orang dapat hidup  dalam ruang dan waktu yang sama. Biasanya dua kelompok masyarakat saling membutuhkan dan  bekerjasama secara ekonomi dan  sosial. Misalnya bank dan renternir atau pengusaha dengan buruh.

Dari contoh tersebut terlihat jelas bahwa pranata ekonomi memang terbentuk dengan sendirinya disebabkan oleh adanya kebutuhan masyarakat, serta disebabkan oleh berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perkembangan pranata kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat terus mengalami perubahan. Hal ini disebabkan oleh kemajuan teknologi yang berkembang pesat. Bahkan perubahan pola konsumsi masyarakat sangat ditentukan oleh perubahan lingkungan, bukan ditentukan oleh kebutuhan (needs) tapi oleh keinginan (wants).

 

Referensi:

Koentjaraningrat. (1979). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Nurmansyah, Gunsu., dkk. (2019). Pengntar Antropologi. Lampung: CV. Anugrah Utama Raharja

Sumber Gambar:

https://images.app.goo.gl/D9Vf92DPgZM6Gc1H9 (diakses pada tanggal 27 oktokber 2021)

https://images.app.goo.gl/EufYfG9uF1naggyz9 (diakses pada tanggal 27 oktokber 2021)