Teori Sosial Learning
Walter Mischel dan Martin Seligman
Erlyna Rahma Sari
19310410084
Dosen Pengampu: Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A
A. Walter Mischel
Teori kognitif sosial Mischel berpendapat bahwa faktor kognitif, seperti ekspektasi, persepasi subjektif, tujuan dan standard personal mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian. Manusia memiliki sejarah individual dan pengalaman yang unik, yang memberikan mereka jalan untuk menentukan tujuan-tujuan personalnya, tetapi juga memiliki kesamaan yang cukup di antara manusia untuk memberikan jalan pada konstruksi rumusan matematis yang apabila tersedia informasi yang cukup akan menunjukkan perilaku yang reliable dan akurat (Kompasiana, 5/6/2014).
B. Martin Seligman
Martin Seligman lahir pada tanggal 12 Agustus 1942 di Albany, New York. Pada tahun 1967, Seligman meraih gelar Ph.D. dalam bidang psikologi dari Universitas Pennsylvania. Di tahun 1998, Martin Seligman terpilih sebagai Presiden American Psychological Association (APA). Martin Seligman seorang tokoh yang mampu mengubah cara pandang dan cara berpikir para psikolog dunia. Martin Seligman terkenal dengan nama “Father Of Positive Psychology”. Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis yang hanya berkutat pada kekurangan manusia ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia.
Awal karirnya bermula saat ia menjabat asisten professor di Universitas Ithaca, New York. Seligman memulai penelitian dibidang teori tentang pembelajaran ketidakberdayaan, pembelajaran perilaku pesimis, dimana ia memimpin penemuan untuk bidang pengobatan dan pencegahan dari depresi. Dalam penelitiannya di bidang pesimisme dan depresi ia menemukan dan memasukan ide baru yaitu optimisme.
Depresi menurut Martin Seligman learned hardness yaitu ketika seseorang mengalami pengalaman negative. Hal tersebut seperti ketika dihadapkan dengan stress dan rasa kesakitan yang panjang, mereka akan lebih mungkin mengalami depresi. Depresi akan terjadi setelah suatu peristiwa negative dimana individu menjelaskan peristiwa tersebut dengan atribusi yang menyalahkan diri sendiri.
Psikologi Positif Seligman berawal dari premis bahwa manusia itu “pada dasarnya happy” dan ilmu psikologi hadir sekedar untuk menguatkan perasaan positif itu.
Kebahagiaan dapat diperoleh dengan adanya kondisi psikologis yang didukung oleh emosi positif yang tinggi dan tingkat emosi negatif yang rendah. Banyak cara dilakukan oleh kita untuk mencapai kebahagiaan. Namun, kebahagiaan juga bisa bersifat sementara, yaitu kebahagiaan tersebut tidak benar-benar membuat kita bahagia atau kebahagiaan tersebut hanya berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Hal itu membuat kita melakukan upaya apapun untuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya.
Berikut ini akan dijelakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kebahagiaan seseorang, yaittu:
Pertama, budaya. Faktor budaya dan sosial politik yang spesifik sangat berperan dalam tingkat kebahagiaan seseorang. Hasil penelitian lintas budaya menjelaskan bahwa hidup dalam suasana demokrasi yang sehat dan stabil lebih daripada suasana pemerintahan yang penuh dengan konflik militer.
Kedua, kehidupan sosial. Penelitian yang dilakukan oleh Seligman dan Diener menjelaskan hampir semua orang dari 10% orang yang paling bahagia sedang terlibat dalam hubungan romantis.
Ketiga, agama atau religiusitas. Orang yang religius lebih bahagia dan lebih puas terhadap kehidupan daripada orang yang tidak religius.
Keempat, pernikahan. Seligman mengatakan bahwa pernikahan sangat erat hubungannya dengan kebahagiaan.
Kelima, usia. Penelitian yang dilakukan oleh Wilson mengungkapkan kemudaan dianggap mencerminkan keadaan yang lebih bahagia. Namun setelah diteliti lebih dalam ternyata usia tidak berhubungan dengan kebahagiaan.
Keenam, uang. Umumnya penelitian yang dilakukan dengan cara membandingkan kebahagiaan antara orang yang tinggal di negara kaya dengan orang yang tinggal di negara miskin.
Ketujuh, kesehatan. Kesehatan objektif yang baik tidak begitu berkaitan dengan kebahagiaan. Menurut Seligman yang penting adalah persepsi subjektif kita terhadap seberapa sehat diri kita.
Kedelapan, jenis kelamin. Jenis kelamin memiliki hubungan yang tidak konsisten dengan kebahagiaan. Wanita lebih banyak mengalami emosi positif dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Tingkat emosi rata-rat pria dan wanita tidak berbeda namun wanita lebih bahagia dan lebih sedih daripada pria.
Referensi:
Saradi, Sunedi. (2018). Psikologi Positif. Yogyakarta: Titah Surga.
Yudhawati, Dian. (2018). Implementasi Psikologi Positif dalam Pengembangan Kepribandian Mahasiswa. Psycho Idea, Vol. 16 No. 2.
https://www.kompasiana.com/cacha/54f7182aa33311ab1d8b4836/mengenal-teori-rotter-dan-mischel ( diakses pada 20/12/2020)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar