Jumat, 25 Desember 2020

PUISI REALITA

REALITA

Aku tau

Kita sedang berpura-pura

Terlihat baik-baik saja


Sebenarnya banyak kata ingin terucap

Tetapi mulut terkunci rapat

Kenyataannya hanya saling tatap


Aku tau

Pedihnya ingin memeluk

Tangisnya akan pecah


Sama-sama merasa hal serupa

Tetapi tidak ada gerak yang tercipta

Pada akhirnya, hanya tersenyum hampa


@erlynarahma

Minggu, 20 Desember 2020

TEORI SOSIAL LEARNING WALTER MISCHEL DAN MARTIN SELIGMAN

 Teori Sosial Learning

Walter Mischel dan Martin Seligman

Erlyna Rahma Sari

19310410084

Dosen Pengampu: Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A


A. Walter Mischel

Teori kognitif sosial Mischel berpendapat bahwa faktor kognitif, seperti ekspektasi, persepasi subjektif, tujuan dan standard personal mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian. Manusia memiliki sejarah individual dan pengalaman yang unik, yang memberikan mereka jalan untuk menentukan tujuan-tujuan personalnya, tetapi juga memiliki kesamaan yang cukup di antara manusia untuk memberikan jalan pada konstruksi rumusan matematis yang apabila tersedia informasi yang cukup akan menunjukkan perilaku yang reliable dan akurat (Kompasiana, 5/6/2014).


B. Martin Seligman

Martin Seligman lahir pada tanggal 12 Agustus 1942 di Albany, New York. Pada tahun 1967, Seligman meraih gelar Ph.D. dalam bidang psikologi dari Universitas Pennsylvania. Di tahun 1998, Martin Seligman terpilih sebagai Presiden American Psychological Association (APA). Martin Seligman seorang tokoh yang mampu mengubah cara pandang dan cara berpikir para psikolog dunia. Martin Seligman terkenal dengan nama “Father Of Positive Psychology”. Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis yang hanya berkutat pada kekurangan manusia ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia.

Awal karirnya bermula saat ia menjabat asisten professor di Universitas Ithaca, New York. Seligman memulai penelitian dibidang teori tentang pembelajaran ketidakberdayaan, pembelajaran perilaku pesimis, dimana ia memimpin penemuan untuk bidang pengobatan dan pencegahan dari depresi. Dalam penelitiannya di bidang pesimisme dan depresi ia menemukan dan memasukan ide baru yaitu optimisme.

Depresi menurut Martin Seligman learned hardness yaitu ketika seseorang mengalami pengalaman negative. Hal tersebut seperti ketika dihadapkan dengan stress dan rasa kesakitan yang panjang, mereka akan lebih mungkin mengalami depresi. Depresi akan terjadi setelah suatu peristiwa negative dimana individu menjelaskan peristiwa tersebut dengan atribusi yang menyalahkan diri sendiri.

Psikologi Positif Seligman berawal dari premis bahwa manusia itu “pada dasarnya happy” dan ilmu psikologi hadir sekedar untuk menguatkan perasaan positif itu.

Kebahagiaan dapat diperoleh dengan adanya kondisi psikologis yang didukung oleh emosi positif yang tinggi dan tingkat emosi negatif yang rendah. Banyak cara dilakukan oleh kita untuk mencapai kebahagiaan. Namun, kebahagiaan juga bisa bersifat sementara, yaitu kebahagiaan tersebut tidak benar-benar membuat kita bahagia atau kebahagiaan tersebut hanya berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Hal itu membuat kita melakukan upaya apapun untuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya.

Berikut ini akan dijelakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kebahagiaan seseorang, yaittu:

Pertama, budaya. Faktor budaya dan sosial politik yang spesifik sangat berperan dalam tingkat kebahagiaan seseorang. Hasil penelitian lintas budaya menjelaskan bahwa hidup dalam suasana demokrasi yang sehat dan stabil lebih daripada suasana pemerintahan yang penuh dengan konflik militer.

Kedua, kehidupan sosial. Penelitian yang dilakukan oleh Seligman dan Diener menjelaskan hampir semua orang dari 10% orang yang paling bahagia sedang terlibat dalam hubungan romantis.

Ketiga, agama atau religiusitas. Orang yang religius lebih bahagia dan lebih puas terhadap kehidupan daripada orang yang tidak religius.

Keempat, pernikahan. Seligman mengatakan bahwa pernikahan sangat erat hubungannya dengan kebahagiaan.

Kelima, usia. Penelitian yang dilakukan oleh Wilson mengungkapkan kemudaan dianggap mencerminkan keadaan yang lebih bahagia. Namun setelah diteliti lebih dalam ternyata usia tidak berhubungan dengan kebahagiaan.

Keenam, uang. Umumnya penelitian yang dilakukan dengan cara membandingkan kebahagiaan antara orang yang tinggal di negara kaya dengan orang yang tinggal di negara miskin.

Ketujuh, kesehatan. Kesehatan objektif yang baik tidak begitu berkaitan dengan kebahagiaan. Menurut Seligman yang penting adalah persepsi subjektif kita terhadap seberapa sehat diri kita.

Kedelapan, jenis kelamin. Jenis kelamin memiliki hubungan yang tidak konsisten dengan kebahagiaan. Wanita lebih banyak mengalami emosi positif dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Tingkat emosi rata-rat pria dan wanita tidak berbeda namun wanita lebih bahagia dan lebih sedih daripada pria.


Referensi:

Saradi, Sunedi. (2018). Psikologi Positif. Yogyakarta: Titah Surga.

Yudhawati, Dian. (2018). Implementasi Psikologi Positif dalam Pengembangan Kepribandian Mahasiswa. Psycho Idea, Vol. 16 No. 2.

https://www.kompasiana.com/cacha/54f7182aa33311ab1d8b4836/mengenal-teori-rotter-dan-mischel ( diakses pada  20/12/2020)

Minggu, 06 Desember 2020

Social Learning Theory: Albert Bandura

 

Social Learning Theory:

Albert Bandura

Erlyna Rahma Sari

19310410084

Dosen Pengampu: Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A

 

Social learning theory adalah teori dari Albert Bandura (1977). Menurut Bandura , manusia mempelajari sesuatu dengan cara meniru perilaku orang lain. Teori social learning tidak tercipta untuk menggantikan classical dan operant. Teori ini justru penyempurna kedua teori yang sudah ada, classical dan operant conditioning dapat terjadi selama proses meniru. Teori social learning ini juga dikenal dengan nama observational learning. Social learning theory, atau teori belajar sosial, adalah pengembangan dari karya Cornell Montgomery (1843-1904).

Bandura, sebagai seorang behavioristik, percaya bahwa perkembangan kognitif saja tidak cukup menjelaskan perilaku pada anak. Ia yakin, proses meniru juga berpengaruh terhadap perkembangan mereka. Bandura menyempurnakan teori belajar sosial dengan menambahkan aspek perilaku dan kognitif. Behavioral learning (belajar perilaku) berarti lingkungan menyebabkan seseorang melakukan perilaku tertentu. Belajar kognitif berarti bahwa faktor psikologis pun punya andil dalam mempengaruhi bagaimana seseorang berperilaku.

Namun, Bandura juga merasakan bahwa kemampuan kognitif juga mempengaruhi proses belajar. Ini, terutama, ketika ia melihat eksperimen boneka Bobo, di mana anak memperlihatkan perilaku berbeda setelah diperlihatkan sebuah tayangan.

Manusia dapat meniru perilaku, namun ia juga punya kemampuan memilih dan memilah perilaku apa yang mau ia pelajari. Kecakapan memilah dan memilih inilah aspek kognitif yang dimaksud.

Belajar observasional merupakan konsep dasar social learning theory Bandura. Belajar observasional berarti seorang individu mendasari pengetahuannya dengan mengobservasi orang lain di dalam lingkungan.

Seorang individu akan mengenali perilaku orang lain, menyesuaikan dengan dirinya, lalu menirukan perilaku tersebut di masyarakat. Semua yang ia ketahui berasal dari perilaku orang-orang di sekitarnya.

Bandura (1977) berkata bahwa manusia sesungguhnya adalah prosesor aktif. Manusia tidak sekedar meniru, ia memikirkan konsekuensi dari perilaku yang akan ia tiru. Menurut Bandura, ada tiga model yang ditiru dalam observational/social learning. Tiga model:

Pertama, model langsung, seorang yang nyata, berada di dekat peniru, melakukan suatu perilaku

Kedua, model instruksi verbal, seseorang menyebutkan perilaku dan ciri-cirinya secara detil

Ketiga, model simbolik, karakter (nyata/fiktif) yang menampakkan perilaku melalui media. Bisa berupa buku, video, atau film.

 

Referensi:

Janet Lesilolo, Herly. (2018). Penerapan Teori Belajar Sosial Albert Bandura dalam Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Kenosis, Vol. 4 No. 2.

Mukhid. (2009). Perspektif Teori Kognitif Sosial dan Implikasinya terhadap Pendidikan. Tadrîs, Volume 4. Nomor 1.

Selasa, 01 Desember 2020

Puisi Kini

KINI

Tanpa tau alur dan waktu
Kita bernostalgia sendiri
Singgah dari masa lampau
Hingga pergi ke masa kini

Pada hujan yang turun
Mengalirkan kisah tak berujung
Kini ku titipkan rindu
Pada awan yang mendung

Lamunanku pada secangkir kopi
Waktu cepat sekali berlari
Semua teman beranjak pergi
Menyisakan aku sendiri

Senin, 30 November 2020

Teori Stimulus-Respon Neal E. Miller dan John Dollard

 

Teori Stimulus-Respon

Neal E. Miller dan John Dollard

Erlyna Rahma Sari

19310410084

Dosen Pengampu: Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A

John Dollard lahir di Menasha, Wisconsin pada 29 Agustus 1900. Neal E. Miller dilahirkan di Milwaukee, Wisconsin pada tanggal 3 Agustus 1909. John Dollard dan Neil E. Miller keduanya mengabdi di Institute Of Human Relation, keduanya melakukan sebuah gagasan teori yang nantinya sangat berpengaruh di bidang psikologi yang dikenal dengan stimulus- response theory yang berkaitan dengan teori belajar. Dari teori yang diketemukan oleh Dollard dan Miller bahwa mereka beranggapan bahwa kebiasaan merupakan salah satu elemen dalam struktur kepribadian.

Temuan Dollard dan Miller menyimpulkan bahwa untuk bisa belajar, orang harus menginginkan sesuatu, mengenalinya, mengerjakannya dan mendapatkannya. Berdasarkan teori yang dijelaskan Dollard dan Miller, proses belajar sangat bergantung pada hal eksternal seseorang. Empat komponen utama belajar tersebut, yaitu drive, cue, response dan reinforcement.

Dinamika Kepribadian

Motivasi - Dorongan (Motivation-Drives)

Dollard dan Miller sangat memperhatikan motivasi atau drive. Dalam kehidupan manusia banyak sekali muncul dorongan yang harus dipelajari. Secondary drives berdasarkan dorongan seperti cemas, takut, gelisah. Sedangkan primary drives berdasarkan dorongan primer seperti lapar,haus dan seks.

Proses Belajar

Dollard dan Miller menyimpulkan dari eksperimen-eksperimennya bahwa sebagian  besar  dorongan  sekunder  yang  dipelajari manusia,  dipelajari melalui  belajar  rasa  takut  dan  kecemasan. Dollard dan Miller menyimpulkan bahwa untuk bisa belajar, orang harus menginginkan sesuatu, mengenalinya, mengerjakannya dan mendapatkannya  (want  something, notice something, do something, get something). Empat komponen utama belajar tersebut, yaitu drive, cue, response dan reinforcement.

Proses Mental yang lebih tinggi

Generalisasi stimulus (stimulus generalization), Semakin mirip stimulus lain itu dengan stimulus aslinya, maka peluang terjadinya generalisasi tingkah laku, emosi, pikiran atau sikap semakin besar.

Reasonin, memberi kemudahan untuk merencanakan, menekankan tindakan pada masa yang akan datang, mengantisipasi respon agar menjadi lebih efektif.

Bahasa (ucapan, pikiran, tulisan maupun sikap tubuh), kata dapat menguatkan tingkah laku sekarang secara verbal dengan menggambarkan konsekuensi masa yang akan dating.

Secondary drive, Stimulus atau cue yang sering berasosiasi dengan kepuasan dorongan primer dapat menjadi reinforcement sekunder. Semua drive sekunder, dapat dianalisis asosiasinya dengan drive primer.

Model Konflik

Menurut Dollard dan Miller, konflik membuat orang tidak dapat merespon secara normal.

Ketidaksadaran

Dollard dan miller memandang penting faktor ketidaksadaran, Dollard dan miller membagi isi-isi ketidaksadaran menjadi dua. Yang pertama ketidaksadaran yang berisi hal yang tidak pernah disadari seperti stimuli,drive dan respon yang dipelajari bayi sebelum bisa berbicara sehingga tidak memliki label verbal. Yang ke dua berisi apa yang pernah disadari tetapi tidak bertahan dan menjadi tidak disadari karena adanya represi.

Pembaharuan Dolland dan Miller terhadap psikoterapi tradisional adalah pemakaian analisis teori belajar mengenai apa yang telah terjadi : Displacement, Sublimasi, dan Belajar menguasai sistem syaraf otonom.

 

Referensi:

Alwisol. 2009. “Psikologi Kepribadian”. Malang: UMM Press.

Jess Feist & Gregory J Feist. (2006). “Theories Of Personality”. New York: McGraw-Hill.

Senin, 23 November 2020

REVIEW TEORI KEPRIBADIAN B.F. SKINNER

 

Review Teori Kepribadian B. F. Skinner 

Erlyna Rahma Sari

19310410084

Dosen Pengampu: Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A

Burrhus Frederic Skinner atau lebih dikenal dengan B.F Skinner (1904-1990) adalah seorang psikolog berkebangsaan Amerika yang lahir pada tanggal 20 Maret 1904 di Susquehanna, Pennsylvania, Amerika Serikat. Setelah meraih gelar doktor dari Universitas Harvard dan bergabung dengan universitas tersebut pada tahun 1948. Skinner dikenal sebagai salah satu tokoh psikologi behaviorisme yang sangat berpengaruh.

Skinner memandang sebuah tingkah laku bisa ada dikarenakan suatu proses yang dinamakan belajar, selain dari proses belajar ada juga yang dinamakan pengalaman. Sehingga tingkah laku manusia dapat terbentuk apabila dilakukan stimulus atau rangsangan yang di dapatkan dari lingkungannya. Stimulus sendiri tentunya akan menimbulkan sebuah respon, saat seseorang diberikan rangsangan maupun sebuah stimulus, tentu secara tidak langsung akan menimbulkan sesuatu yang menimbulkan respon.

Di dalam teori kepribadian skinner, reinforcement dan punishment memiliki pengertian panutan yang serupa dengan pemberian hadiah, pujian dan juga penghargaan, Misalnya saja saat anda melihat nilai raport anak anda dengn nilai yang bagus (sebuah stimulus) kemudian tentunya ada perasaan bahagia (sebuah respon) sehingga anda akan memberikan hadiah berupa penghargaan kepada anak anda(reinforcement) dari hal tersebut anak anda akan lebih termotivasi untuk mendapatkan nilai yang lebih baik lagi, dari hal tersebut dapat terlihat sebuah reinforcement yang positif.

Adapun teori psikologi kepribadian yang dimaksud dengan reinforcement negatif yang bisa diartikan sebuh hambatan, menunda memberikan penghargaan saat nilai anak anda bagus, pada reinforcement negatif saat anak mendapatkan nilai yang baik akan diberikan hadiah, namun saat dia mendapatkan nilai yang bagus kembali, akan tetapi tidak diberikan hadiah seperti saat awal mendapatkan nilai yang bagus, tentunya dia akan menjadi sangat bingung dan bertanya-tanya. adapun reincerforcement negatif berupa saat anak tidak menyelesaikan tugas rumah dengan baik kemudian jangan menghukum dengan hukuman fisik, lebih baik berikan tambahan tugas sehingga di akan takut apabila tugas yang dia kerjakan tidak selesai pasti akan bertambah terus-menerus.

Pengondisian Operan

Walaupan pengondisian klasik bertanggung jawab atas beberapa pembelajaran manusia, Skinner yakin bahwa kebanyakan perilaku manusia dipelajari melalui pengondisian operan. Kunci dari pengondisian operan adalah penguatan yang langsung dari sebuah respons. Kemudian, penguatan akan meningkatkan kemungkinan dari perilaku yang sama untuk terjadi lagi. Selama 60 tahun dari karirnya, Skinner mengidentifikasi sejumlah prinsip mendasar dari operant conditioning yang menjelaskan bagaimana seseorang belajar perilaku baru atau mengubah perilaku yang telah ada. Perinsip utamanya terdiri atas: pembentukan, penguatan, hukuman, dan eliminasi.

Organisme Manusia

Organisme manusia berasal dari seleksi alam yang ditentukan dari komposisi genetis dan sejarah penguatan yang diterima. Tidak hanya seleksi alam tapi juga karena adanya evolusi budaya. Di samping itu karena adanya kondisi internal pada manusia, seperti kesadaran diri, dorongan, emosi, tujuan, dan intensi.

Kepribadian Tidak Sehat

Perilaku yang tidak pantas merupakan hasil dari teknik melawan kontrol sehingga merugikan diri sendiria atau dari usaha yang gagal dalam melaukan kontrol diri, salah satu dari kegagalan ini di iringi oleh emosi yang kuat. Seperti kebanyakan repons yang tidak pantas atau tidak sehat dipelajari. Peilau tersbut bebentuk dari penguatan negatif dan pistif. Khususnya oleh dampak dari hukuman.

B-Mod (modifikasi perilaku)

B-Mod atau modifikasi perilaku adalah tekhnik terapi yang didasarkan pada karya-karya skinner. Cara kerja sanggat sederhana: perilaku yang tidak diingini dengan cara menghilangkan penguat dan menggantinya dengan perilaku yang dihasrati dengan penguatan. Teknik ini telah digunakan disemua jenis masalah psikologis. Kecanduan, neurosis, sifat pemalu, autis, bahkan skizofrenia dan lebih efektif jika ditunjukan pada anak-anak (Kompasiana,  2015).

 

Referensi:

Jess Feist & Gregory J Feist. (2006). “Theories Of Personality”. New York: McGraw-Hill.

Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press

https://www.kompasiana.com/fitrianurriafivah/bmod-terapi-ala-skinner_54f7467ba33311b26d8b4865